Follow Me:

Thursday, July 3, 2014

Tetap Berjalan Arjuna-Welirang (Amazing Journey Pt.1)

14 November – 5 Desember 2013

Tak terasa dimulai pada 14 November 2013 dan sekarang sudah 5 Desember 2013, uang didompet pun tinggal 15rb entah kebetulan atau sengaja mungkin pertanda harus pulang, setelah Malang-Batu-Sragen-Solo-Semarang. Sedikit banyak aku merasa kenal dan bertambah cinta dengan bangsa ini, banyak bertemu orang-orang baik yang dengan ikhlas membantu atau memang aku yang merepotkan.

Ondra, Awink, Ucu, Vian, Ryan, Putra, Denis, Mbak yu, Bink, Bonjol
Said, Herlan, Akbar,Yogi , + Subi & Mas Kecap (yg foto in)
Jum’at 15 November 2013 sekitar pukul 9 pagi di Stasiun Kotabaru Malang. 13 orang memulai langkah awal untuk menjalin persahabatan dengan latar belakang, karakter, dan visi yang berbeda tetapi menjunjung tinggi rasa kebersamaan. Kami langsung menuju terminal pandaan dengan angkot carteran. Di pandaan kami break untuk shalat juma’t bagi yang melaksanakan J, setelah selesai shalat juma’t kami kedatangan 2 teman baru yaitu Mas Akbar dan Mas Bonjol yang baru sampai dari Lamongan.

Bak badai yang tiba-tiba datang seperti itulah kami ketika selesai break mendengar kabar Jalur pendakian Arjuna-Welirang via Tretes ditutup karena kebakaran hutan. Namun apaboleh buat nasi telah menjadi bubur kita harus menemukan cara lain untuk sang Arjuna.

Setelah berunding dan saling tukar pikiran akhirnya kami sepakat untuk tetap menuju sang Arjuna via Taman Safari Prigen Pasuruan (bukan jalur resmi) dan meminta bantuan salah seorang teman kami Mas Kecap sebagai navigator alias yang tau jalan. Pukul 13.30 kami langsung berangkat menuju Taman Safari dengan menyewa colt. Pukul 14.00 kami sampai di pertigaan Taman Safari dan bertemu dengan Mas Kecap serta Briefing Singkat perjalanan.

Start point dari rumah Mas Kecap, setelah repacking Pukul 16.00, 16 orang pemuda pemudi terbaik bangsa  memulai langkah pertama dari ketinggian 731 Mdpl.
Start Point
Trek aspal yang menanjak menjadi pembuka perjalanan kami yang sebenarnya, setelah menemukan ujung trek aspal mulailah kami bisa bernafas sejenak karena jalan yang landai. Hari mulai gelap dan hujan mulai turun, segera headlamp dan raincoat kami keluarkan dan tim memutuskan untuk melipir ke kiri berteguh di sebuah gubuk Mbah tua yang tinggal disana bersama 2 ekor sapi


Kita aja belum makan
Setelah break 30 menit dan hujan mulai reda, kami melanjutkan perjalanan malam yang sungguh indah dibawah terang bulan dan fenomena Halo. Pukul 21.00 kami sampai di Watu Lesung, disinilah tempat yang ideal untuk istirahat karena tempat terbuka dan sudah pasti gemerlap lampu kota memanjakan mata kami malam itu. Setelah beberapa selesai memasak tibalah saatnya menikmati makan malam termewah di Dunia yaitu di Hotel bintang seribu J dan beralaskan trash bag.

Makan Makan Makan
Selesai makan malam kami memutuskan untuk istirahat di Watu Lesung karena ada beberapa yang fisiknya mulai drop. Di Watu Lesung (1400 Mdpl) terdapat gubuk, sebagian besar dari kami mendirikan tenda dan, 5 orang tidur di dalam gubuk termasuk Mbakyu.

Sabtu, 16 Novermber 2013

Pukul 05.30 aku terbangun karena sayup-sayup dari luar tenda ada yang memanggil namaku, dan ternyata Mbakyu yang ingin pinjam kamera ..... L. Aku langsung menunaikan shalat Subuh dan menyusul Mbakyu, tak lama kemudian datang Mas Bink, Mas Said, Mas Ondra, Rian dan Subi. 

Matahari malu-malu menyapa kami dari balik Semeru
Dari sini juga terlihat puncak Arjuna yang hanya sejengkal dari kepala kami, sedikit mengisi perut dengan roti tawar sambil kami menikmati pagi itu dan berfoto ria (khusus yang bangun pagi ajah...)

Pukul 06.45 kami kembali ke camp dan siap untuk memasak, Nasi, Sup, Telur, Sosis goreng, dan  pilus adalah menu mewah sarapan pagi kami.

Sarapan Bareng yuk.. gabung gabung
Selesai makan, kami langsung berkemas dan packing untuk melanjutkan perjalanan pukul 09.50 saat kami sudah siap tempur dengan persenjataan lengkap, hujan turun dengan intensitas lebat dan memaksa kami untuk menunda perjalanan. Setelah hujan reda kami langsung berangkat dan pukul 11.00 kami sampai di pertigaan dan disini kami sudah mulai masuk dan melewati jalur resmi pendakian Arjuna Via Purwosari.


Pertigaan di jalur Purwosari
Sebelum melanjutkan perjalanan kami memutuskan untuk lurus dan turun menuju petilesan Abiyoso dan mampir di sumber mata air Sendang Dewi Kunti, disini juga terdapat warung yang menyediakan kopi, teh, dan makanan. Disini kami mengisi kembali persediaan air, dan sekedar membasuh muka.Tidak berlama-lama kami melanjutkan perjalanan dan pukul 12.00 kami sampai di Pos 3 atau Pos Eyang Sakri. 

Nampang
Rencana awal kami hanya ingin sedikit mengambil nafas di Pos Eyang Sakri, tapi apadaya hujan kembali meruntuhkan semangat kami. Hampir setengah jam kami hanya memandangi butir-butir hujan yang turun, setelah sedikit reda kami melanjutkan perjalanan kembali dan sesekali rintik hujan tak bosan menghibur kami.

Hampir 1 jam berjalan kita sampai di sebuah gubuk seperti sebuah padepokan, tepat sekali ketika sampai disebuah gubuk hujan deras kembali datang. Di gubuk ini saya sempat sholat dan membuat minuman hangat, kehangatan di gubuk ini semakin terasa saat Kang Awink memulai menyatukan kami dengan acara berkenalan yang sangat lengkap sampai ke yang sensitif seperti umur dan status, pokoknya seru banget.

Gubuk perkenalan
Larut dalam keseruan perkenalan jalur pun sudah berubah menjadi sungai dadakan, dan kami memutuskan untuk tetap menerobos agar bisa sampai di tempat peristirahatan yang nyaman sebelum gelap. Berjalan dan terus berjalan akhirnya kita sampai di Petilesan Eyang Semar, disini terdapat sebuah gubuk yang cukup besar dan kami beristirahat sebentar untuk sekedar melepas rain coat dan gear hujan lain karena hujan sudah berhenti, dan disini Mbakyu dengan imutnya melapor kepadaku “Herlan aku kena pacet” lantas ku jawab “udah dilepas?” Mbakyu menjawab lagi “udah” lantas ku balas “ywdh (sambil cari botol air)”

Tak berlama-lama istirahat di petilasan Eyang Semar kami lanjut berjalan menuju Candi Sepilar sebagai tempat peristirahatan untuk malam ini, 15 menit berjalan sekitar pukul 16.00 kita sampai di candi sepilar dan disini terdapat gubuk yang bisa dipakai sebagai tempat istirahat dan bisa muat sampai 50 orang, dan didekat candi juga terdapat toilet.


Candi Sepilar
Disini saya, Mas Bink, Mas Akbar, dan Mas Kecap sempat berbincang dalam kehangatan tungku dadakan dengan mbah Arjuno (mbah Arjuno adalah orang yang sering dicari peziarah atau orang yang ke Arjuno dengan misi khusus), entah apa saja yang dibicarakan saya hanya ikut mendengar dan menganggukan kepala saja.

Semakin malam dingin semakin menusuk saatnya mengeluarkan perlengkapan masak dan berkreasi, saya kebagian masak nasi dan sarden malam itu bersama Mas Said dan Mas Ondra. Setelah semua selesai masak saatnya menggabungkan jadi satu, yup.. kita makan bersama dengan piring hitam persegi panjang yang panjangnya hampir 2 meter.

Selesai makan masing-masing hanyut dengan kesibukan sendiri, ada yang main kartu, ngobrol dalam kehangatan sleeping bag, duduk di candi sepilar, dan saya, Mas Akbar, Mbakyu sedikit turun menelusuri jalur untuk mencari view point menikmati gemerlap lampu kota dan Mahameru yang tetap menunjukan keberadaannya di malam itu.

Kenyataan lebih Indah dari foto
Merasa cukup menikmati malam itu kami beranjak kembali ke dalam gubuk dan melaksanakan ritual khusus untuk menambah kekuatan kami yaitu: Tidur ZZZzzzz   

Minggu, 17 Novermber 2013

30 menit memasuki hari baru kami kembali membuka mata, dan re-packing untuk persiapan summit attack puncak Arjuno. Pukul 01.30 kami memulai melangkahkan kaki untuk mencoba menggapai puncak Arjuno sempat berhenti 10 menit untuk menitipkan tas dan barang bawaan lain di sebuah gubuk yang dihuni teman mas kecap.

Semua anggota tim sudah sedikit lega dan joss untuk muncak tapi tak berlaku bagi Saya, Mas Bonjol, Mas Akbar, Kang Ucu, dan Mbakyu yang masih tetap mencintai kulkas masing-masing dan siap melanjutkan tek-tok Welirang.

Meskipun perlahan tetapi sedikit demi sedikit setiap tanjakan berhasil kami lalui taklupa diiringi bunyi perut keroncongan yang bersahut-sahutan dihiasi bunyi kentut. Hahahahha...
Sekitar pukul 04.00 kami sampai di “tanjakan pengetasan” kata mas kecap inilah tanjakan paling gendeng dan penghabisan. Kami break cukup lama sebelum menjelajah tanjakan ini dan saya mematikan dan menyimpan headlamp ketika melewati tanjakan ini. Benar saja keputusan saya lebih baik sama sekali tidak melihat tanjakan ini hanya tertunduk mencari pijakan dan pegangan, saya jatuh bangun dan benar-benar bercumbu dengan alam ketika melewati tanjakan ini, dan setelah melewati tanjakan ini saya luapkan tekanan batin saya dengan membanting Carrier. Ada yang terkaget, ketawa, dll.

Istirahat setelah melewati tanjakan pengetasan Sun Rise mulai mengejar kami dengan kecepatan penuh dan kami hanya bisa pasrah dipermalukan oleh sang surya.

Sunrise
Kami break cukup lama menikmati lukisan alam ini, sambil sarapan dan tak lupa menunaikan sholat tentunya. Perlahan dan pasti semngat mulai menurun setelah perjalanan ini terang dan secara alami break semakin sering terjadi terutama bagi kami yang tetap setia menggendong kulkas kesayangan. Keindahan alam selalu menjadi penyemangat kami menuju puncak Arjuno.

Sekitar pukul 7 kami sampai di pertigaan menuju puncak Arjuno dan Jalur Lawang, dari sini puncak ogal-agil sudah terlihat jelas. Mulai dari sini perjalanan semakin terasa indah ditemani edelweiss, cantigi dan tumbuhan lain yang seakan-akan bersorak-sorai memberikan semangat kepada kami walau hampir setiap 5 langkah saya berhenti.


Mas Bink di pertigaan
Akhirnya pukul 09.30 Saya bersamaan Mbakyu bisa mencapai puncak Arjuno 3339 mdpl, tak lupa dengan rasa syukur tentunya. Jeprat-jepret dengan background putih saya menikmati perjalanan ini sedikit beristirhat dan berbincang dengan yang lain. Perjalanan ini sangat panjang dan kami semua adalah Jiwa-jiwa Muda yang Hebat!

Kang Ucu, Mbakyu, Herlan

Foto Keluarga
Pukul 11.30 kami mulai besiap untuk berpisah Saya, Mas Akbar, Mas Bonjol, Kang Ucu dan Mbakyu lanjut ke Welirang sementara rombongan lain turun lewat jalur semula. Salam Perpisahan *mewek*

Perjalanan kami naik turun cenderung landai dan datar, Mas Akbar bertugas sebagai navigator kami dengan GPS nya. Sesaat memasuki hutan Lali Jiwo kami sempat bingung orientasi medan karena medannya sama dan banyak percabangan jalurnya mungkin inilah yang menyebabkan dinamakan “lali jiwo” dan banyak pendaki yang tersesat bermula dari “lali jiwo” ini.


Sebelum Lali Jiwo
Terus berjalan dan prosotan di bebatuan yang sedikt curam pukul 14.30 kami sampai di Lembah Kijang, lembah kijang begitu sepi siang itu sangat menyenangkan untuk dinikmati. Kami bersantai sejenak dan mengisi persediaan air. Hujan rintik-rintik mulai menyapa kami yang bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke pondokan, jalur ke pondokan sudah landai dan sekitar 20 menit berjalan kami sampai di Pondok-pondok yang sepi sekali sore itu tetapi asap yang mengepul membuat kami menyadari banyak orang disini.

Pondokan in sight
Di Pondokan terdapat Mushola, pondok-pondok penambang, dan bak penampungan air. Sesampai di Pondokan kami bersih-bersih, sholat di mushola, dan memasak. Mas Bonjol dan Mbakyu berkreasi untuk memenuhi perut kami yang sudah mulai lapar, sementara Saya, Mas Akbar, dan Kang Ucu bertugas menyiapkan dan mendekorasi sweet room kami malam ini.

Selesai semua saatnya masuk kamar dan makan, nasi sarden dan mi instan menjadi menu kami (menu pasaran di gunung). Selesai makan sleeping bag terasa sudah menggoda kami dan kami tak kuasa menolaknya, pukul 17.00 kami semua sudah mencari posisi masing-masing untuk bobo cantik dengan niat bangun pukul 01.00 untuk Summit Attack Welirang. Malam ini saya berbagi sleeping bag dengan kang ucu, angin gunung yang membawa hawa dingin perlahan mulai bertiup sepertinya malam ini saya akan tarik-tarikan sleeping bag dengan kang ucu.

Senin, 18 November 2013

Pukul 00.30 Alarm pertama dari Mas Akbar berbunyi hanya sekejap suaranya pun hilang sepertinya langsung dimatikan mengingat hujan yang mengguyur Pondokan malam itu serta tenda kami yang sedikiti kembung kemasukan angin. Pukul 02.00 giliran Alarm saya sendiri yang mengejutkan seluruh isi tenda, apa daya hanya Mbakyu yang membuka mata malam itu dan perut yang keroncongan pun memaksa saya untuk memasak bersama Mbakyu, Hujan ringan yang masih mengguyur menambah romantis Dinner kami malam itu. Tak lupa setelah makan kami membuat Nutrijel untuk bekal muncak dan setelah itu kami kembali tidur, tidur, dan tidur ZZzz.

Sempat terbangun kembali pukul 05.00 saya menunaikan shalat subuh dan setelah itu tidur lagi. Ketika mulai terang samar-samar kami mendengar suara penambang yang sedang berbincang untuk siap memulai harinya, kami juga tak mau kalah dan siap untuk TIDUR LAGI. Pukul 07.30 barulah kami memulai beraktivitas dengan sebenar-benarnya sambil bermolet ria. Kami memulai aktivitas dengan lamban mulai dari memasak, mengambil air.....

Pukul 09.00 barulah kami mulai melangkahkan kaki menuju puncak Welirang, trek dari Pondokan menuju puncak welirang diawali dengan trek yang landai dan sedikit licin pagi itu karena habis diguyur hujan, kemudian dilanjutkan dengan trek bebatuan yang sudah tersusun. Sesekali kita akan berpapasan dengan penambang yang membawa gerobak pengangkut belerang.


Langkah gontai
Pukul 12.00 kami sampai disebuah lembah indah yang dinamakan Taman Dewa, dari Taman Dewa membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk ke puncak, tapi harus hati-hati karena banyak percabangan antara jalan menuju puncak dan menuju kawah yang biasa dilalui penambang, dan jangan lupa memakai masker karena bau belerang sangat menyengat dan membuat mata perih.

Dan setelah berjalan-jalan dengan langkah gontai kami sampai di Puncak Welirang, tak berlama-lama dipuncak pukul 12.40 kami memulai perjalanan turun karena bau belerang yang semakin mnyengat, dan batrai kamera yang sudah habis. Di perjalanan turun kami mampir sejenak ke Goa Alami di Taman Dewa yang penuh Vandalisme, dan beristirahat.
  
Foto Keluarga
Goa
Pukul 14.30 kami sampai kembali dengan selamat di Pondokan, suasana Pondokan sore itu lebih ramai karena ada jeep yang menjemput belerang dan mengahantarkan logistik untuk para penambang. Mendung kembali menyapa tak berlama-lama setelah packing dan Sholat Ashar Pukul 16.00 kami mulai meninggalkan Pondokan dengan salam senyum untuk penambang sore itu.


Salam Senyum XD
Sekitar 1 jam perjalanan kami mulai melihat kiri kanan belukar yang hangus terbakar, memang benar seharusnya jalur ini ditutup karena cuaca yang masih tidak menentu bisa menyebabkan bencana lain dijalur ini mengingat pohon-tua yang semakin rapuh setelah terbakar. Pukul 18.30 kami sampai di Kopkopan beristirahat sambil menikmati lampu kota, dan kami kembali melangkahkan kaki.


Hangus (bukan orangnya)
Skip skip Pukul 20.41 kami sampai di Pos Pet Bocor, disini terdapat warung, mushola, dan MCK. Disini kami istirahat cukup lama untuk sholat dan mengeluarkan muatan berlebih. Pukul 21.15 kami kembali berjalan dan melewati persimpangan jalan menuju air terjun kakek bodo Tretes, derasnya suara air seperti memanggil kami tetapi malam yang sudah larut kami memilih untuk tetap turun.

Pukul 21.30 Alhamdulillah kami sampai kembali dengan selamat ke dunia nyata. Melewati Pos Perizinan Tretes yang tutup, kami langsung mencari jalur evakuasi lapar. Mas Akbar, Mas bonjol, dan Kang Ucu memilih Pecel Ayam di warung tenda biru sementara saya memilih sate kelinci karena penasaran.

Selesai mengisi perut kami memutuskan untuk bermalam di Tretes mengingat sarana transportasi yang sulit ketika malam. Kami memutuskan untuk membuka tenda disamping pos perizinan, tetapi keberuntungan berpihak pada kami malam itu bertemu dengan petugas penjaga pos perizinan kami diizinkan untuk menginap di pos perizinan.

Sampai di Pos Perizinan saya memilih untuk langsung hanyut dalam mimpi meninggalkan mereka yang masih berbincang ria. Samar-samar ketika saya mulai hanyut dalam buaian mimpi saya mendengar suara Mas Bink malam itu, dan benar saja setelah pagi menyapa Mbakyu bercerita.

Selasa, 19 November 2013
  
Pukul 05.00 saya berhasil bangun dan menunaikan shalat subuh bersama Mbakyu, dan kemudian kami berjalan-jalan keluar sambil ngobrol. Entah dari mana datangnya sejenak kutinggalkan Mbakyu untuk masuk ke Pos ketika keluar ia sudah bermain dengan kuda.


Lady Cowboy
Sekitar pukul 07.30 kami mulai bergantian mandi di kamar mandi Pos Perizinan Tretes, setelah itu saya bersama kang ucu menikmati gorengan hangat bersama sambel edan.. di warung pos perizinan (susah berenti euy..)

Pukul 10.34 kami berangkat ke Terminal Pandaan dengan Angkot @Rp.7.500,-. Pukul 11.00 kami sampai di Terminal Pandaan. Waktu yang paling saya benci datang yaitu perpisahan, 5 hari kebersamaan kami tentu sangat berkesan. Mas Akbar dan Mas Bonjol naik Bus menuju Lamongan, Mbakyu naik Bus menuju Surabaya, sementara itu Saya dan Kang Ucu menunggu jemputan Mas Bink, dan Mas Said yang bersedia menampung dan mengajak kami keliling Batu-Malang.


Efektifkan waktu
Terima Kasih Sahabat.

Perjalanan ini belum selesai dan bersambung di Part 2





2 comments:

  1. Ciieeee aku tau looo,... :P udah nggak perlu dirahasiakan,..

    ReplyDelete
    Replies


    1. ngga pernah dirahasiakan kok...

      Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan komen

      Delete